SIDRAP, METROLACAK — Suasana serius tapi santai mewarnai rapat Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sidrap yang digelar Sabtu (21/2/2026) di Rumah Jabatan Wakil Bupati.
Undangan resmi memang terkesan formal, namun di lapangan, rapat ini terasa seperti “pemanasan otot” sebelum Sidrap tampil sebagai tuan rumah Porsenijar tingkat Sulawesi Selatan tahun 2026.
Selain pengurus PGRI kabupaten dan para ketua cabang se-Sidrap, rapat ini juga dihadiri oleh Asisten Satu, Camat Maritengngae, para kepala kelurahan, serta kepala desa se-Kecamatan Maritengngae. Kehadiran unsur pemerintah wilayah ini menambah “tenaga” koordinasi agar persiapan tidak hanya rapi di atas kertas, tapi juga solid di lapangan.
Ketua PGRI Sidrap, Nurkanaah, SH., M.Si, dalam arahannya menegaskan bahwa rapat ini bukan sekadar ajang kumpul formalitas.
“Jangan sampai kita hanya jago di rapat, tapi lemah di pelaksanaan. Porsenijar ini bukan lomba wacana, tapi lomba aksi. Jadi mulai sekarang, kita harus bergerak,” ujarnya, disambut senyum para peserta.
Dengan gaya santai namun mengena, ia juga mengingatkan tantangan menjadi tuan rumah.
“Kalau jadi tuan rumah, kita ini bukan cuma siapkan kursi dan konsumsi. Tapi juga harus siap kalau ada tamu yang datang lebih cepat dari panitia,” tambahnya, yang langsung mengundang tawa ringan di ruangan.
Meski diselingi humor, pesan yang disampaikan tetap serius. PGRI bersama pemerintah setempat diminta memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk kesiapan sarana, teknis kegiatan, hingga manajemen pelaksanaan.
Beberapa peserta bahkan berkelakar bahwa tantangan terbesar bukan pada cabang olahraga atau seni, melainkan “lomba koordinasi panitia” yang sering kali lebih menegangkan dari pertandingan itu sendiri.
Namun di balik suasana cair tersebut, ada komitmen kuat: Kabupaten Sidenreng Rappang harus tampil maksimal sebagai tuan rumah.
Jika dipersiapkan dengan baik, Porsenijar 2026 bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga panggung untuk menunjukkan kualitas organisasi, solidaritas guru, dan kesiapan daerah dalam menyambut tamu dari seluruh penjuru.
Rapat pun ditutup dengan harapan sederhana: semoga Porsenijar nanti tidak hanya sukses di acara, tetapi juga minim “drama”—kecuali drama di panggung seni.




